Jumat, 15 Oktober 2010

KELAPA SAWIT, BENARKAH DISEBUT ‘PRIMADONA’

Kelapa sawit, sejatinya bukan tanaman asli Indonesia. Bermula dari 4 biji kelapa sawit, yang sebenarnya aslinya dari Afrika tersebut dibawa orang Belanda ke Indonesia dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848. Karena tanaman tersebut tumbuh subur dan setelah dicoba di beberapa daerah bisa tumbuh dengan baik maka sejak 1910 kelapa sawit dibudi dayakan secara komersial dan meluas di Sumatra.

Kelapa Sawit, Sustainability atau Kampanye Dagang (Part 1)

Kelapa Sawit Indonesia


Kelapa sawit sejatinya bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari Afrika yang dibawa bangsa barat dan kemudian dikembangkan di Indonesia. Suatu berkah Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa alam Indonesia cocok untuk budidaya kelapa sawit. Berkah tersebut, tidak diberikan kepada negara-negara di Afrika (sebagai asal tanaman kelapa sawit) maupun kepada negara-negara di Eropa (sebagai bangsa pertama yang mengembangkan kelapa sawit di Indonesia). Oleh karena itu bangsa Eropa lah yang pertama kali menikmati hasil keuntungan industri kelapa sawit Indonesia, yakni di jaman kolonial hingga program nasionalisasi tahun 1959. Hingga tahun 1980 kelapa sawit hanya diusahakan oleh perusahaan besar baik negara maupun swasta, dan bisa dikatakan bahwa industri kelapa sawit kurang berkembang. Sejak akhir tahun 80-an, dengan adanya program PBSN (Perkebunan Besar Swasta Nasional) pengembangan perkebunan kelapa sawit dimulai kembali dan mulai saat itu perkebunan besar secara bersamaan diminta untuk membangun perkebunan untuk rakyat melalui program kebun Inti-Plasma (Nucleus Estate Smallholder). Program ini dikembangkan lebih luas yang disinergikan dengan program transmigrasi (PIR-BUN dan PIR-TRANS), sehingga terjadi percepatan pembangunan perkebunan kelapa sawit rakyat.

Kelapa Sawit, Sustainability Atau Kampanye Dagang (Part 2)

Deforestasi dan Keamanan Pangan Global

Deforestasi berbanding lurus dengan pembangunan. Pembangunan pertanian di beberapa negara Eropa telah mengonversi hutan dalam jumlah besar di masa lalu. Di Eropa, sekitar 75% hutannya telah dikonversi menjadi kegunaan di luar kehutanan sejalan dengan pertambahan penduduk. Di Inggris, saat ini hutannya tinggal tersisa 11% (Oxley, 2010). Di Amerika, setali tiga uang. Hutan telah berubah menjadi ladang penggembalaan dan pertanian yang mengambil separoh dari kawasan hutannya. Itulah mengapa, data tahun 2009 menunjukkan pertanian kedelai dunia telah memakai 97,5 juta ha, pertanian kanola (rapeseed) menguasai lahan 31 juta ha dan pertanian bunga matahari (sun flower) menggunakan lahan seluas 24 juta ha (Oil World Annual Report, 2010) . Ini semua adalah akibat deforestasi di masa lalu yang hingga sekarang masih terus berlangsung. Bandingkan dengan pertanian kelapa sawit yang hanya menggunakan lahan 12 juta ha. Tetapi yang 12 juta ha (5 % dari keseluruhan pertanian minyak nabati, atau kurang dari 1 % dari keseluruhan pertanian global) tersebut dikampanyekan sebagai penyebab deforestasi. Deforestasi masih akan berlangsung mengingat permintaan pangan dunia terus meningkat dan harus diimbangi dengan peningkatan produksi. Sementara peningkatan produksi tidak cukup jika hanya dengan intensifikasi tanpa ekstensifikasi. Sebagai contoh, untuk kasus minyak nabati, setiap tahun dibutuhkan penambahan 5 juta ton sebagai akibat pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita.

Kelapa Sawit, Sustainability Atau Kampanye Dagang (Part 3)

Kampanye anti-sawit, LoI dan Green Protectionis

Kampanye anti-sawit yang dilakukan oleh BINGO dengan alasan yang berganti-ganti membuktikan bahwa sebenarnya adalah pura-pura (bogus). Dengan dalih kesehatan, alasan kualitas, alasan penyelamatan lingkungan, alasan hak asasi manusia (konflik sosial), hingga kerusakan iklim semua berujung pada ‘hentikan ekspansi industri sawit’. Suatu hal yang aneh bahwa obyek yang sama ‘diserang’ dengan berbagai alasan dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Kelompok bisnis tertentu, (melalui RSPO) melakukan pembatasan terhadap perdagangan komoditi minyak sawit dengan menetapkan standar-standar dan menerapkan sertifikasi. Dengan sertifikasi, produk minyak sawit baru dianggap memenuhi kriteria sustainability dan bisa dijual di (kawasan perdagangan) Eropa.

Kelapa Sawit, Sustainability Atau Kampanye Dagang (Part 4)

Membangun Industri Sawit Berkelanjutan

Dengan berbagai perangkat perundangan di negara kita seyogyanya industri sawit Indonesia sudah bisa di anggap sustainable. Tidak hanya regulasi Pemerintah yang bersifat mengikat, praktik-praktik terbaik sebagai hasil riset dan inovasi sudah banyak diimplementasikan. Untuk menyebut aspek regulasi, sudah ada UU Perkebunan (UU No 18/2004) yang mengatur aspek perijinan sampai dengan oprasional, UU Kehutanan (UU No 41/1999) yang mengatur tata cara konversi hutan, UU Tata Ruang (UU No 26/2007) yang mengatur penataan kawasan hutan dan ruang untuk berusaha, UU Lingkungan Hidup (UU No 32/2009) yang sangat ketat mengatur (salah satunya) AMDAL, UU Keaneka ragaman hayati untuk perlindungan habitat spesies penting dan terancam, dsb. Praktik-praktik terbaik yang sudah dilakukan misalnya pemanfaatan limbah padat dan cair untuk mengurangi pemborosan energi, meningkatkan kesuburan tanah, penggunaan pupuk organik, tata kelola air, penggunaan tanaman bermanfaat maupun pengembangan musuh alami untuk pengendalian hama dan penyakit sehingga meminimalkan penggunaan pestisida. Belum lagi program sosial baik kepada karyawan maupun masyarakat sekitar perkebunan dalam berbagi bentuk antara lain jaminan dan pelayanan kesehatan, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi lokal melalui berbagai kemitraan.  

Jumat, 25 Juni 2010

Indonesian Sustainable Palm Oil Standard

Indonesian plan to introduce their sustainable standard soon , many reasons why Indonesia take this actions first as a sovereign countries there are no question that we can have our standard, as a producing countries we want to serve our buyers to what they want or willing to buy. The standard will base on Indonesian regulations , this is very important because penalties is imposed if regulations is not  implemented. ISPO is the answer of Indonesian program to speed up the implementation of sustainable palm oil . There more 12 companies that has been audited by certification bodies appointed by RSPO waiting to be approve as producers of RSPO sustainable palm oil. These companies are in queue to be approve by RSPO since last year.

ISPO and RSPO are not so different because it is contain the principles of sustainable palm oil , the only different is in Indonesia this standard is compulsory and RSPO is voluntary , companies that has been certified by RSPO can approve ISPO certification with may be  some additional criteria.  ISPO will be in the form of regulations and before its implementations , Ministry of Agriculture will notify WTO.   Through Indonesian Accreditation Committee  Multilateral Arrangement  with Accreditation Bodies in countries of destination , ISPO will be approve. Meanwhile the Indonesian will promote the standard and approval from the buyers and buyers countries is one of the most important programme . So, if the world really want sustainable  palm oil Indonesia will produce but do not say the consumers want sustainable palm oil but no body willing  to buy it,

Senin, 07 Juni 2010

Sustainable Palm Oil and Kit Kat

The latest issue blown by Green Peace about Kit Kat and orangutan is really humiliating, public should know that orangutan do not live in all parts of Indonesia. It only lived in Aceh and Central Kalimantan. There are two species of orangutan in Indonesia; Sumatran orangutan which can be found in Aceh, which classified as critically endangered species and Borneo orangutan in Central Kalimantan which are also classified as endangered species.  To take care of those orangutan, there are three national parks where orangutan are known to exist like Tanjung Puting which located in Central Kalimantan, Gunung Leuser in Aceh and Bukit Baka Raya in Central Kalimantan. In every province there are National Agency for the Wild Life who can accept orangutan and other animal, to take care the problems that orangutan faced and sent back to the wild life.


 

Selamat Datang

harapan kami dengan adanya blog ini akan membuka pikiran kita mengenai industri kelapa sawit, sehingga industri ini dapat berkembang lebih besar dengan sumber daya manusia yang lebih baik. besar harapan kami untuk dapat bersama sama maju mengembangkan industri kelapa sawit.

Sekilas mengenai palm oil

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

InfoCopyright ©2012